Interpreting Samiaji Sarosa

Sepi ing lathi rame ing driji

Kualitatif vs Kuantitatif

11 Comments

Penelitian kualitatif dan kuantitatif sering diartikan secara salah sebagai masalah ada atau tidaknya statistik, ekonometrika, atau matematika sebagai alat. Penggunaan kata kualitatif dan kuantitatif mungkin turut berperan dalam kesalahkaprahan tersebut. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif berawal dari perbedaan mendasar pada paradigma maupun filosofi dasar yang melandasinya.

Perbedaan paradigma dan filosofi dasar tersebut seringkali tidak disadari oleh para peneliti yang menganut masing-masing aliran, baik kualitatif maupun kuantitatif.  Sebagai akibatnya, seringkali debat antara para peneliti kualitatif dan kuantitatif tidak menyentuh esensi tetapi lebih pada atribut di permukaan. Sebagai contoh, para penganut aliran kuantitatif sering “menuduh” penganut aliran kualitatif tidak dapat menunjukkan validitas, reliabilitas, obyektivitas, maupun generalisasi hasil penelitian (Crotty 1998; Miles & Huberman 1994). Di sisi lain, peneliti kualitatif “menyerang” peneliti kuantitatif dengan keengganan mereka untuk berinteraksi dengan obyek penelitian dan kedangkalan analisa.

Salah kaprah tidak hanya berhenti sampai di sana. Sering kali kita menjumpai kesalahkaprahan tersebut menyebabkan tercampur aduknya metode, metodologi, alat, perspektif teoritis, dan epistemologi. Tidak jarang dijumpai pemaknaan istilah ethnography, symbolic interactionism, constructivist, dan lainnya menjadi kabur. Posting ini ditulis untuk menjernihkan kesalahkaprahan tersebut dan menempatkan perspektif yang jelas akan perbedaan antara penelitian kualitatif dengan kuantitatif sehingga debat berkepanjangan yang tidak perlu tidak terjadi.

1.    Pengertian Dasar

Sebelum membahas penelitian kualitatif dan kuantitatif, terlebih dahulu kita harus mengerti beberapa istilah dasar. Setiap kali memulai suatu penelitian (mungkin dalam proses penyusunan  proposal) peneliti dihadapkan pada pertanyaan mengenai metodologi dan metode yang akan digunakan. Selanjutnya kita juga dihadapkan pada bagaimana meyakinkan (justifikasi) pilihan metodologi dan metode kita merupakan pilihan yang paling tepat. Lebih mendalam lagi, pilihan metodologi dan metode penelitian yang kita gunakan merupakan perwujudan asumsi dasar yang kita gunakan, dengan kata lain merupakan perwujudan perspektif teoritis yang kita anut.  Penelusuran lebih mendalam lagi akan menyentuh sisi epistemologis yang kita anut.

Epistemologi adalah teori mengenai pengetahuan yang terkandung dalam perspektif teoritis dan dengan sendirinya dalam metodologi (Ambert et al. 1995; Blaikie 2000). Ada beberapa epistemologi yang berbeda yaitu Objectivism, Constructionism, Subjectivism, dan beberapa variannya (Crotty 1998).

Perspektif teoritis adalah landasan filosofis yang membentuk metodologi dan dengan demikian memberikan konteks untuk proses dan dasar logika dan kriteria (Crotty 1998; Guba & Lincoln 1994).

Metodologi adalah strategi, rencana, proses, atau rancangan yang berada di balik pilihan dan penggunaan metode tertentu dan menghubungkan pilihan dan penggunaan metode untuk mencapai hasil penelitian yang diinginkan (Creswell 2003; Leedy & Ormrod 2005).

Metode adalah teknik atau prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisa data yang berkaitan dengan permasalahan penelitian atau hipotesis (Leedy & Ormrod 2005; Patton 2001).

Bagian berikut ini akan membahas pengertian dasar epistemologi dan perspektif teoritis.

1.1.  Epistemologi

Epistemologi berkaitan dengan sifat suatu pengetahuan (Crotty 1998; Hamlyn 1995). Lebih jelasnya, epistemologi berkaitan dengan filosofi dasar untuk memilih pengetahuan seperti apa yang mungkin diciptakan dan bagaimana memastikan pengetahuan tersebut memadai dan sahih (Hamlyn 1995; Maynard 1994). Sebagai peneliti, epistemologi yang kita adopsi menjadi penting untuk mendeskripsikan metodologi yang kita gunakan.

Ada beberapa epistomologi, misalnya objectivism. Objectivism beranggapan bahwa makna, pengertian, dan realitas ada dan terpisah dari kesadaran manusia. Makna dan realita tetap ada  meskipun manusia tidak menyadarinya (Guba & Lincoln 1994). Manusia hanyalah menemukan adanya makna atas realita tersebut. Sebagai contoh, emas yang terkandung di dalam tanah tetaplah emas. Emas tersebut mengandung makna intrinsik sebagai emas. Ketika manusia menemukan emas tersebut dan mengenalinya sebagai emas, maka manusia hanya menemukan makna emas tersebut. Makna emas tersebut diam dan menunggu untuk ditemukan. Epistomologi objectivism ini yang kebanyakan dianut oleh peneliti kuantitatif.

Epistemologi constructionism memiliki pandangan yang berbeda.  Makna dan realita adalah hasil konstruksi pemikian manusia (makanya diberi nama constructionism) dan tidak ada makna atau realita yang menunggu untuk ditemukan manusia seperti halnya objectivism (Crotty 1998). Suatu hal yang sama akan dimaknai secara berbeda oleh orang yang berbeda. Hal ini dapat menjelaskan perbedaan budaya, cara pandang, dan perilaku manusia meski dihadapkan pada hal yang sama. Epistemologi constructionism ini yang kebanyakan dianut oleh peneliti kualitatif.

Dengan melihat perbedaan epistemologi tersebut, dapat dipahami perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif. Peneliti kuantitatif berusaha menemukan makna yang tersembunyi dalam fenomena yang ditelitinya. Validitas, relaibilitas, dan obyektifitas menjadi penting karena dengan demikian peneliti dapat menemukan maknya yang tersembunyi. Generalisasi hasil penelitian juga merupakan atribut  penting penelitian kuantitatif karena makna suatu hal adalah universal dan akan bias diterima siapa saja. Sebaiknya, peneliti kualitatif bergelut dengan pemaknaan suatu fenomena secara berbeda oleh orang yang berbeda. Suatu realita menjadi memiliki makna yang berbeda-beda dan dengan demikian menjadi kompleks. Peneliti kualitatif berusaha memahami dan menangkap kompleksitas tersebut.

1.2.   Perspektif Teoritis

Dalam memilih metodologi penelitian yang kita gunakan, secara sadar ataupun tidak, kita membawa asumsi dasar. Sebagai peneliti, kita harus berupaya untuk menyadari dan mendeskripsikan asumsi-asumsi tersebut. Asumsi dasar tersebut akan nampak dalam metodologi yang kita gunakan.

Perspektif teoritis berkaitan dengan cara pandang terhadap dunia dan kehidupan dalam dunia tersebut (Creswell 2003; Crotty 1998; Jacob 1998). Nama lain dari perspektif adalah paradigma penelitian (Campbell 2007). Ada beberapa perspektif teoritis yang biasa digunakan, antara lain positivism, interpretivism, critical inquiry, feminism, postmoderninsm, dan lain-lain (Crotty 1998; Saunders, Lewis & Thornhill 2007). Penelitian kuantitatif biasanya menggunakan perspektif teoritis positivism sedangkan penelitian kualitatif menggunakan interpretivism.

Positivism dipopulerkan oleh Auguste Comte. Positivism menganggap pengetahuan yang autentik adalah pengetahuan yang telah melalui pengujian dengan metodologi ilmiah. Akar positivism dapat ditelusuri mulai dari masa pencerahan (Enlightement) dengan munculnya metode ilmiah sebagai tradisi penelitian. Untuk bidang bisnis dan sistem informasi di Indonesia, paham inilah yang banyak dianut. Metode ilmiah bahkan sudah mulai diperkenalkan semenjak tingkat SMP[1]. Berbagai metodeologi penelitian kuantitatif menampakkan metode ilmiah yang kuat dalam proses penelitian, dimulai dari perumusan masalah, pengajuan hipotesis, pengumpulan data, pengujian hipotesis, sampai dengan kesimpulan.

Interpretivism pada dasarnya menganggap bahwa semua pengetahuan adalah masalah interpretasi, orang yang berbeda akan menginterpretasikan sesuatu secara berbeda pula. Dalam aliran interpretivism terdapat beberapa pendekatan, yaitu symbolic interactionism, phenomenology, dan hemerneutics (Crotty 1998). Interpretivism akan dibahas secara lebih mendalam pada bab 2.

Dengan melihat epistemologi dan perspektif teoritis yang berbeda antara penelitian kualitatif dan kuantitatif, maka dapat dipahami mengapa kedua pendekatan penelitian tersebut berbeda dalam banyak hal.  Pada bagian selanjutnya akan dibahas perbedaan tersebut secara lebih terinci. Pembahasan akan diteruskan dengan validitas dan reliabilitas serta diakhiri dengan pertimbangan pemilihan metodologi dan sistematika pembahasan dalam buku ini.

2.         Perbedaan Penelitian Kualitatif dan Kuantiatif

Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang menggunakan epistemologi objectivism dengan perspektif teoritis positivism menggunakan metode eksperimental atau pengukuran kuantitatif untuk menguji hipotesis dengan tujuan menemukan generalisasi dan menekankan pada pengukuran dan analisa hubungan sebab akibat antara variable (Crotty 1998; Hoepfl 1997; Sekaran 2000). Penelitian kualitatif adalah penelitian yang mencoba memahami fenomena dalam seting dan konteks naturalnya (dunia nyata) di mana peneliti tidak berusaha untuk memanipulasi fenomena yang diamati (Leedy & Ormrod 2005; Patton 2001; Saunders, Lewis & Thornhill 2007). Dengan melihat perbedaan epistemologi dan perspektif teoritis yang melandasi penelitian kuantitatif dan kualitatif, maka dalam operasionalnya akan sangat nampak berbeda. Penelitian kuantitaif karena berakar dari objectionism dan menganut perpsektif teoritis positivism maka akan menemukan kebenaran yang sejak dulu ada tersembunyi di suatu tempat. Kebenaran yang menunggu untuk ditemkan tersebut akan dapat dtemukan oleh siapapun dengan alat yang tepat. Sebaliknya, penelitian kualitatif berusaha menggali dan memahami pemaknaan akan kebenaran yang berbeda-beda oleh orang yang berbeda. Perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif disarikan ke dalam tabel 1-1 (disarikan dan diadaptasi dari Avison & Myers 2005; Blaikie 2000; Crotty 1998; Glesne & Peshkin 1992; Guba & Lincoln 1994; Leedy & Ormrod 2005; Miles & Huberman 1994).

Kuantitatif Kualitatif
Asumsi Fakta adalah realitas yang obyektif Realitas merupakan bentukan komunitas sosial
Variabel dapat diidentifikasi dan diukur Variabel sulit diukur, kompleks, dan saling terkait
Terlepas dari obyek pengamatan Termasuk dalam obyek yang diamati
Tujuan Generalisasi hasil Menjelaskan konteks suatu fenomena
Prediktif Interpretatif
Penjelasan sebab akibat Memahami perspektif pelaku
Proses Dimulai dengan teori dan hipotesis Diakhiri dengan hipotesis/teori
Manipulasi dan pengendalian variabel Mengikuti data dan hasil temuan
Menggunakan instrumen pengukuran formal Peneliti sebagai instrumen
Deduktif Induktif
Analisa terhadap komponen temuan Mencari pola dalam temuan
Mencari konsensus/generalisasi Mengungkap kompleksitas fenomena
Mereduksi data ke dalam angka Data numerik/statistik sebagai pelengkap
Peran Lepas dan imparsial Keterlibatan personal dan parsial
Peneliti Pengungkapan obyektif Pemahaman empatik

Tabel 1.

Epistemologi objectivist nampak dalam asumsi dasar penelitian kuantitatif, di mana realitas bersifat obyektif sehingga akan bermakna sama bagi siapapun yang menerimanya. Obyektivitas dicapai dengan mengukur variabel-variabel suatu realitas menggunakan alat ukur yang valid dan handal. Siapapun yang menggunakan alat ukur tersebut dalam mengukur variabel akan mendapatkan pemahaman yang sama akan suatu realita. Untuk mencapai obyektivitas tersebut peneliti tidak boleh terlibat dengan obyek penelitiannya dan harus menjaga jarak. Tidak heran jika penelitian kuantitatif melibatkan instrument pengumpulan data berupa survey yang disebarkan dengan bantuan asisten atau melalui web.

Penelitian kualitatif menganggap bahwa realitas adalah bentukan pikiran manusia. Segala sesuatu yang melibatkan manusia akan bersifat kompleks dan multi dimensi, apalagi jika melibatkan sekelompok manusia dan interaksinya. Kompleksitas tersebut akan sangat sulit diukur dan direduksi ke dalam angka-angka statistik. Data statistik hanyalah satu sisi kompleksitas atau dimensi, masih banyak sisi dalam realitas yang harus dipahami. Peneliti menjadi bagian dalam realitas tersebut seingga sulit untuk menjaga obyektivitas absolut.

Hasil akhir yang ingin dicapai oleh penelitian kuantitatif adalah mampu menjelaskan hubungan sebab akibat suatu fenomena dan menggeneralisir hasil penelitian dengan kemampuan prediktif terhadap fenomena serupa di tempat lain. Sangat penting dalam penelitian kuantitatif untuk memperoleh sampel yang memadai dan mewakili populasi sehingga meyakinkan pihak lain akan obyektivitas penelitiannya. Sebaliknya penelitian kualitatif berusaha memahami kompleksitas fenomena yang diteliti. Peneliti berusaha menginterpretasikan dan kemudian melaporkan suatu fenomena. Peneliti juga berusaha memahami suatu fenomena dari sudut pandang sang pelaku di dalamnya. Pemahaman dari sang peneliti sendiri dan dari para pelaku diharapkan akan saling melengkapi dan mampu menjelaskan kompleksitas fenomena yang diamati.

Proses penelitian kuantitatif dan kualitatif sedikit berbeda. Proses dan tahapan penelitian kuantitatif lebih terstruktur dan sistematis dibandingkan dengan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif akan dimulai dengan perumusan masalah, perumusan hipotesis berdasarkan landasan teori dan penelitian sebelumnya, pengumpulan data, analisa data untuk menguji hipotesis, dan penarikan kesimpulan. Pengambilan kesimpulan dilakukans ecara deduktif dengan mengumpulkan bukti-bukti yang akan mengkonfirmasi atau membantah hipotesis penelitian. Keseluruhan prosedur tersebut harus dilakukan dengan sistematis, rigorous[2], dan dengan standar baku. Obyektivitas dan generalisasi hasil menuntut peneliti untuk menemukan fakta yang tersembunyi. Siapapun menggunakan proses metode ilmiah yang sama akan menemukan hasil yang sama untuk suatu fenomena yang sama.

Proses penelitian kualitatif lebih fleksibel dalam artian langkah selanjutnya akan ditentukan oleh temuan. Asumsi bahwa realita akan dimaknai berbeda menjadikan langkah untuk menjamin generalisasi hasil tidak diperlukan. Generalisasi seperti dalam penelitian kuantitatif akan sulit dicapai karena pemaknaan yang berbeda-beda akan fenomena yang sama. Data yang dikumpulkan akan dicari pola yang sama untuk menjelaskan kompleksitas fenomena. Dalam uji hipotesis pada penelitian kuantitatif, data yang bersifat terlalu ekstrim sering dikeluarkan dari analisa karena akan mengganggu penggeneralisasian hasil. Dalam penelitian kualitatif sering dijumpai nilai ekstrim menjadi temuan penting atau setidaknya petunjuk untuk menelusur lebih jauh. Peneliti kualitatif akan menggunakan metode induktif untuk menarik kesimpulan dari hasil penelitian. Hasil akhirnya adalah suatu hipotesis atau teori yang menjelaskan suatu fenomena. Mengapa disebut hipotesis? Karena kesimpulan penelitia kualitatif tidak bisa digeneralisir karena hanya berlaku pada konteks fenomena yang diteliti. Pada fenomena serupa dengan konteks yang berbeda mungkin akan berbeda.

Pada masa setelah Perang Dunia ke 2, penelitian kuantitatif menjadi dominan. Peran penelitian kualitatif direduksi hanya menjadi alat untuk merumuskan hipotesis yang kemudian akan diuji dengan penelitian kuantitatif (Walle 1997). Pendefinisian dan peletakkan peran penelitian kualitatif tersebut juga menjadi argumen yang mendukung metodologi penelitian campuran atau penggunaan mixed-methods (lihat misalnya Blaikie 2000; Cooper & Schindler 1998; Creswell 2003). Tentunya peran penelitian kualitatif tidak sekecil itu. Banyak fenomena bisnis kontekstual yang dengan mudah dijelaskan melalui penelitian kualitatif karena teori umum yang dianut tidak berlaku atau memiliki kekuatan penjelas dan/atau prediksi yang lemah.

Peneliti pada penelitian kuantitatif harus bersifat imparsial dan “melepaskan” diri dari fenomena yang diteliti. Hal tersebut penting guna mencapai obyektivitas. Peneliti kuantitatif tidak boleh bias dalam melakukan penelitian. Sebaliknya, peneliti kualitatif adalah instrumen utama dalam penelitian. Keterlibatan peneliti merupakan kunci penting untuk memahami kompleksitas suatu fenomena. Peneliti kualitatif berusaha menyelami dan memahami secara empatik apa yang dirasakan dan dipersepsikan oleh para pelaku suatu fenomena. Obyektivitas seperti halnya dalam penelitian kuantitatif tidak dapat dicapai.

3.       Validitas dan Reliabilitas

Melihat perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif dapat disimpulkan bahwa konsep validitas dan reliabilitas pada kedua penelitian tidak akan kompatibel. Pada penelitian kuantitatif, validitas merujuk pada tingkat kemampuan suatu penelitian mendukung kesimpulan yang dikemukakan, sedangkan reliabilitas merujuk pada konsistensi instrumen dalam melakukan pengukuran (Cooper & Schindler 1998; Creswell 2003; Leedy & Ormrod 2005; Sekaran 2000). Validitas dan realibilitas sangat penting dalam penelitian kuantitatif untuk mencapai obyektivitas dan konsistensi hasil penelitian. Hal tersebut sejalan dengan epistemologi objectivism.

Mencapai validitas dan reliabilitas seperti halnya dalam penelitian kuantitatif sangat sulit karena bukan obyektivitas yang menjadi tujuannya. Dalam penelitian kualitatif, reliabilitas merujuk pada kualitas penelitian itu sendiri (Golafshani 2003). Penelitian kualitatif yang berkualitas baik dapat membantu pemahaman terhadap suatu fenomena yang nampak membingungkan dan kompleks (Myers 1997, 2009; Patton 2001; Stahl & Brooke 2008). Di sisi lain, sejalan dengan epistemologi constructionism tidak terkait dengan isu reliabilitas karena reliabilitas terkait dengan pengukuran suatu variabel.

Terlepas dari perlu tidaknya reliabilitas, setiap penelitian perlu memperhatikan kualitas.  Untuk mencapai kualitas yang baik, maka penelitian kualitatif perlu memiliki atribut dapat dipercaya (trustworthiness) yang tinggi (Patton 2001; Seale & Silverman 1997; Strauss & Corbin 1990; Williamson 2002). Dalam mencapai tingkat kepercayaan yang tinggi penelitian kualitatif perlu mengungkapkan proses dan temuannya dengan tingkat kerincian yang memadai.  Tujuan pengungkapan lengkap dan terinci adalah supaya pembaca dapat memahami konteks penelitian dan hasil-hasil temuan. Pembaca dapat dengan sendirinya menilai apakah proses penelitian dan hasil-hasilnya handal. Pengungkapan yang rinci dan memadai dapat dicapai jika penelitian mampu mengungkap kompleksitas dan perspektif yang berbeda dari suatu fenomena, sejalan dengan paradigma constructivist.

Validitas dan reliabilitas dalam penelitian kuantitatif merujuk juga pada kemampuan prediksi terhadap fenomena sejenis. Suatu penggaris dapat mengukur panjang suatu obyek dengan satuan tertentu.  Apapun obyeknya dan siapapun yang melakukan pengukuran, penggaris dapat mengukur panjangnya dengan akurasi tertentu. Demikian juga dengan penelitian kuantitatif dapat menjelaskan fenomena sejenis dengan alat yang sama meskipun dilakukan oleh peneliti yang berbeda. Penelitian kualitatif dengan kedekatannya pada konteks terjadinya fenomena tidak dapat digunakan pada fenomena sejenis dengan konteks berbeda. Suatu fenomena dipengaruhi dan mempengaruhi  banyak hal sehingga sulit mendapatkan 2 fenomena yang sama persis. Penelitian kualitatif dapat ditransfer untuk menjelaskan sebagian fenomena sejenis pada konteks yang mirip. Dapat dikatakan setiap penelitian kualitatif akan menghasilkan temuan yang berbeda dan dengan sendirinya solusi yang dihasilkan mungkin sekali berbeda.  Banyak fenomena dalam dunia bisnis saat ini memiliki ciri tersebut. Seorang manager yang sukses di satu perusahaan belum tentu akan sukses di perusahaan lain. Dalam mencari solusi masalah bisnis yang unik maka diperlukan proses yang unik pula yang sesuai dengan konteks masalahnya.

Penelitian di bidang bisnis, baik kualitatif maupun kuantitatif, idealnya mengarah pada relevansi hasil penelitian dengan tidak meninggalkan kepatuhan terhadap metodologi penelitian. Kedua hal tersebut merupakan suatu continuum (Bennis & O’Toole 2005). Di satu sisi relevansi kadang meninggalkan kepatuhan tetapi di sisi lain kepatuhan akan mengurangi relevansi. Penelitian kualitatif merupakan metodologi yang mendekatkan celah antara kepatuhan dan relevansi hasil penelitian (Myers 2009).

4.         Pilih yang mana?

Sebagai peneliti mana yang harus kita pilih? Mungkin ini pertanyaan yang muncul setelah membaca perbedaan kedua pendekatan di atas. Crotty (1998) memberikan saran bahwa seorang peneliti selalu mulai dari masalah yang dihadapinya.  Penelitian dibangun berdasarkan pada masalah tersebut. Pada tahap perencanaan penelitian, seorang peneliti harus memilih metodologi dan metode yang sesuai dengan masalah yang dihadapinya.  Pilihan metodologi dan metode didasarkan pada latar belakang dan kemampuan sang peneliti.

Sebagai peneliti, penulis dibesarkan dalam tradisi penelitian kuantitatif. Ketertarikan pada penelitian kualitatif muncul pada saat skripsi S1. Data yang dimiliki penulis tidak dapat diolah dengan alat statistik berupa uji beda. Pembimbing skripsi penulis saat itu menyarankan untuk “menceritakan” perbedaan antara dua kelompok data yang ada. Penulis kemudian menyadari bahwa angka tidak dapat selalu menjelaskan suatu fenomena, perlu adanya pendekatan lain pada masalah penelitian yang saat itu dihadapi penulis. Semenjak itulah ketertarikan penulis pada metode kualitatif muncul dan menguat.

Creswell (2003) menyatakan dimungkinkan adanya bauran metode penelitian (mixed methods). Perlu diingat bahwa yang dibaurkan adalah metode dan bukan metodologi, apalagi epistemologi dan perspektif teoritis. Tidak mungkin menggabungkan ethnography dengan eksperimen atau survey. Yang dimungkinkan adalah dalam suatu penelitian ethnography peneliti menggunakan kuesioner dan mengolahnya dengan statistik untuk mendapatkan gambaran secara statistik tentang obyek penelitiannya.

Berdasarkan pengalaman penulis mengenai penggunaan penelitian kualitatif, seorang peneliti yang dibesarkan dalam tradisi kuantitatif dan ingin mendalami penelitian kualitatif harus mau meninggalkan paradigm positivist. Hal tersebut berat dan mungkin membutuhkan waktu lama. Penelitian apapun mensyaratkan sang peneliti nyaman dan menguasai metodologi penelitian yang digunakannya. Seorang peneliti juga harus memahami landasan metodologi penelitian yang digunakannya, sehingga tidak salah dalam melakukan penelitian.


[1] Penulis mengenal metode ilmiah pada mata pelajaran Biologi di kelas 1 SMP.

[2] Rigorous dapat diterjemahkan menjadi bangkar atau kaku tetapi penulis menganggap hal tersebut tidak tepat. Rigorous merujuk kepada kepatuhan terhadap standar suatu proses yang bersifat kaku.

Referensi

Ambert, A.-M., Adler, P.A., Adler, P. & Detzner, D.F. 1995, ‘Understanding and Evaluating Qualitative Research’, Journal of Marriage and the Family, vol. 57, no. 4, pp. 879-893.

Avison, D. & Myers, M. 2005, ‘Qualitative Research’, in D. Avison & J. Pries-Heje (eds), Research in Information Systems: A Handbook for Research Supervisors and Their Students, Elsevier, Amsterdam, pp. 239-253.

Bennis, W.G. & O’Toole, J. 2005, ‘How Business Schools Lost Their Way’, Harvard Business Review, vol. 83, no. 5, pp. 96-104.

Blaikie, N. 2000, Designing Social Research, Polity Press, Cambridge.

Campbell, B. 2007, ‘The Dynamics of Alignment: Resolving Strategy Ambiguity within Bounded Choices’, University of Technology, Sydney, Sydney.

Cooper, D.R. & Schindler, P.S. 1998, Business Research Methods, 6th edn, Irwin/McGraw-Hill, Boston.

Crano, W.D. & Brewer, M.B. 2002, Principles and Methods of Social Research, 2nd edn, Lawrence Erlbaum Associates, Mahwah.

Creswell, J.W. 2003, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches, 2nd edn, Sage Publications, Thousand Oaks.

Crotty, M. 1998, The Foundations of Social Research: Meaning and Perspective in The Research Process, Allen & Unwin, St Leonards.

Glesne, C. & Peshkin, A. 1992, Becoming Qualitative Researchers: An Introduction, Longman, White Plains.

Golafshani, N. 2003, ‘Understanding Reliability and Validity in Qualitative Research’, The Qualitative Report, vol. 8, no. 4, pp. 597-607.

Guba, E.G. & Lincoln, Y.S. 1994, ‘Competing Paradigms in Qualitative Research’, in N. Denzin & Y.S. Lincoln (eds), The SAGE Handbook of Qualitative Research, Sage Publications, Thousand Oaks, pp. 105-117.

Hamlyn, D.W. 1995, ‘Epistemology, History of’, in T. Honderich (ed.), The Oxford Companion to Philosophy, Oxford University Press, Oxford, pp. 242-245.

Hoepfl, M.C. 1997, ‘Choosing Qualitative Research: A Primer for Technology Education Researchers’, Journal of Technology Education, vol. 9, no. 1, pp. 47-63.

Jacob, E. 1998, ‘Clarifying Qualitative Research: A Focus on Traditions’, Educational Researcher, vol. 17, no. 1, pp. 16-24.

Leedy, P.D. & Ormrod, J.E. 2005, Practical Research: Planning and Design, 8th edn, Pearson, Upper Saddle River.

Maynard, M. 1994, ‘Methods, Practice and Epistemology: The Debate about Feminism and Research’, in M. Maynard & J. Purvis (eds), Researching Women’s Lives from a Feminist Perspective, Taylor & Francis, London, pp. 10-26.

Miles, M.B. & Huberman, A.M. 1994, Qualitative Data Analysis: An Expanded Sourcebook, 2nd edn, Sage Publications, Thousand Oaks.

Myers, M.D. 1997, ‘Qualitative Research in Information Systems’, MIS Quarterly, vol. 21, no. 2, pp. 241-242.

Myers, M.D. 2009, Qualitative Research in Business and Management, Sage Publications, Los Angeles.

Patton, M.Q. 2001, Qualitative Research & Evaluation Methods 3rd edn, Sage Publications, Thousand Oaks.

Saunders, M., Lewis, P. & Thornhill, A. 2007, Research Methods for Business Students, 4th edn, FT Prentice Hall, Harlow.

Seale, C. & Silverman, D. 1997, ‘Ensuring Rigour in Qualitative Research’, European Journal of Public Health, vol. 7, no. 4, pp. 379-384.

Sekaran, U. 2000, Research Methods for Business: A Skill-building Approach, 3rd edn, John Wiley & Sons, New York.

Stahl, B.C. & Brooke, C. 2008, ‘The Contribution of Critical IS Research’, Communications of the ACM, vol. 51, no. 3, pp. 51-55.

Strauss, A. & Corbin, J. 1990, Basics of Qualitative Research: Grounded Theory Procedures and Techniques, Sage Publications, Newbury Park.

Walle, A.H. 1997, ‘Quantitative versus Qualitative Tourism Research’, Annals of Tourism Research, vol. 24, no. 3, pp. 524-536.

Williamson, K. 2002, Research Methods for Students, Academic and Professionals: Information Management and Systems, 2nd edn, Centre for Information Studies, Wagga Wagga.

Author: systemscraft

I am s senior lecturer in information systems at Accounting Department, Faculty of Economics, Atma Jaya Yogyakarta University in Indonesia.

11 thoughts on “Kualitatif vs Kuantitatif

  1. Thank you banget, saya yg sedang kelimpungan studi master di Amerika krn menghadapi courses statistika kuantitatif 1 san 2, malah jadi terbantu dgn membaca artikel ini dgn perbandingan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif.

    Senang sekali jika bisa berguru jarak jauh.

    Warmly, Ifa
    Educational Psychology Department
    University of Connecticut, USA

  2. ada ga perbedaan antara hipotesis nya ?

  3. Hipotesis adalah ciri khas penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif tidak mengenal hipotesis. Penelitian kuantitatif melakukan prediksi berdasarkan logika dan teori/penelitian terdahulu (hipotesis) kemudian mengumpulkan data untuk menguji hipotesis dan menarik kesimpulan. Penelitian kualitatif mengumpulkan data dan menganalisa data untuk menarik kesimpulan.

  4. saya sedang mengerjakan tesis, dari permasalahan yg saya angkat penelitian yang cocok adalah kualitatif,tapi dosen saya menganggap untuk level master penelitian kuantitatif lebih cocok…bingung

    • Terima kasih atas kunjungannya.
      Sebenarnya tidak tepat kalau dikatakan pada level master tidak cocok kualitatif. Permasalahan penelitian, tujuan, dan juga sang peneliti sendiri yang menentukan apakah pendekatan kualitatif cocok atau tidak. Mungkin pembimbing anda memiliki alasan mengapa pada level master, terutama dalam kasus ini thesis anda, lebih cocok kuantitatif.
      Saran saya bicarakan dengan pembimbing anda dengan argumentasi ilmiah, terstruktur, logis, dan sistematis mengapa pendekatan kualitatif cocok untuk thesis anda. Pembimbing utama saya, Didar Zowghi, adalah seorang ahli di bidang formal method (matematika) dan seumur hidupnya belum pernah menggunakan metode kualitatif. Setelah diskusi panjang dengan beliau, saya bisa jalan terus dengan penelitian kualitatif meski harus mencari pembimbing lain yang lebih menguasai kualitatif (Jim Underwood) dan harus mengikuti beberapa pelatihan maupun mentoring tentang penelitian kualitatif.

      Semoga sukses dengan thesisnya!

  5. saya terkendala dalam penulisan thesis bab IV dan V, saya menggunakan teori Edward III, saya gak tau mulai dari mana terutama dalam pembuatan hasil dan pebahasan, penelitian saya kualitatif, ada saran gak, trims

    • Pertama, saya tidak paham apa itu teori Edward III. Bidang apa?
      Kedua mengenai analisa data/pembahasan dan kemudian hasil sangat tergantung pada permasalahan penelitian dan juga tujuan penelitian (berlaku untuk penelitian kualitatif dan kuantitatif). Apa yang ingin/akan anda capai/hasilkan dengan penelitian anda tersebut?
      Untuk penelitian kualitatif mau mulai dari mana juga tergantung pada metode analisa yang dipakai (tentunya metodologi yang dipakai). Misal grounded theory akan melakukan coding dan theoretical sampling untuk kemudian menemukan hasil yang mampu menjawab permasalahan penelitian. Action Research juga akan berbeda dalam menemukan hasilnya. Nah, metode/metodologi mana yang anda gunakan, silakan diikuti saja. Untuk analisa data yang biasa digunakan dalam penelitian kualitatif ada Hermeneutics, Semiotics, Narrative and Metaphor. Silakan mencari referensi mengenai ketiga hal tersebut. Atau untuk permulaan anda bisa melihat di http://www.qual.auckland.ac.nz/. Web tersebut untuk bidang Sistem Informasi jadi mungkin berbeda dengan bidang anda.
      Sekali lagi maaf, saya tidak memahami bidang yang anda teliti jadi hanya bisa memberikan masukan secara umum.
      Semoga sukses dengan thesis anda.

  6. Mas Samiaji, nama samaran atau nama asli?

  7. Pingback: website – pembuatan penelitian « irika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.